Category: Kegiatan

  • Robby Oktora Romanza Nahkodai PWI Pesisir Selatan 2026–2029, Menang Telak 7 Suara

    Robby Oktora Romanza Nahkodai PWI Pesisir Selatan 2026–2029, Menang Telak 7 Suara

    URADIO.ID, Pesisir Selatan – Konferensi Kabupaten (Konfercab) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pesisir Selatan periode 2026–2029 berlangsung demokratis dan penuh semangat kebersamaan. Dari hasil pemungutan suara yang digelar dalam sidang pleno di Aula SMK Negeri 1 Painan, Sabtu (25/7/2026), Robby Oktora Romanza resmi terpilih sebagai Ketua PWI Pesisir Selatan setelah meraih suara terbanyak.

    Pemilihan diawali dengan sidang pleno penetapan pimpinan sidang yang dipimpin Rega Desfinal, didampingi Yoni Syafrizal dan M. Joni. Seluruh tahapan pemilihan berlangsung tertib, terbuka, dan mendapat persetujuan peserta konferensi.

    Berdasarkan hasil rekapitulasi suara, Robby Oktora Romanza yang maju dengan nomor urut tiga memperoleh tujuh suara. Sementara calon nomor urut satu, Elfi Mahyuni, memperoleh satu suara, dan calon nomor urut dua, Primadoni, meraih dua suara. Total suara sah yang masuk berjumlah 10 suara.

    Dengan hasil tersebut, pimpinan sidang menetapkan Robby Oktora Romanza sebagai Ketua PWI Kabupaten Pesisir Selatan periode 2026–2029.

    Suasana haru langsung menyelimuti ruang sidang. Sesaat setelah dinyatakan menang, Robby terlihat melakukan sujud syukur sebagai ungkapan rasa syukur atas amanah yang diberikan rekan-rekan wartawan kepadanya.

    Dalam sambutan perdananya, Robby menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta Konfercab, panitia, pengurus PWI, serta para senior wartawan yang hadir dan ikut menyukseskan jalannya konferensi.

    “Ini merupakan amanah sekaligus tanggung jawab yang sangat besar. Terima kasih kepada seluruh panitia, pengurus, dan seluruh peserta yang telah memberikan kepercayaan kepada saya. Sebuah kebanggaan bagi saya karena Konfercab kali ini juga dihadiri para senior kita yang datang jauh-jauh dari Padang,” ujarnya.

    Robby menegaskan, usai Konfercab dirinya akan segera menyusun struktur kepengurusan baru yang ditargetkan dilantik pada akhir Agustus 2026.

    Selain itu, ia mengungkapkan adanya sinyal positif dari Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan terkait dukungan terhadap program organisasi.

    “Tadi juga sudah ada lampu hijau dari Kepala Dinas Kominfo bahwa akan ada dana hibah untuk mendukung program PWI Pesisir Selatan ke depan. Dalam waktu dekat kami akan menyusun program kerja dan mudah-mudahan bisa direalisasikan pada akhir tahun. Kami juga berharap dapat mengikuti kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) di Lampung,” katanya.

    Robby juga mengajak seluruh anggota PWI untuk mengakhiri dinamika yang terjadi selama proses pemilihan dan kembali bersatu membangun organisasi.

    “Saya minta dukungan dan support dari kawan-kawan semua. Insya Allah ke depan PWI Pesisir Selatan semakin maju dan sukses. Tidak ada lagi perbedaan di antara kita. Mari satukan tekad untuk kemajuan PWI Pesisir Selatan,” ucapnya.

    Sementara itu, Ketua PWI Sumatera Barat, Widya Navies, mengucapkan selamat kepada Robby Oktora Romanza atas amanah yang diterimanya. Ia berharap kepengurusan baru mampu memperkuat solidaritas organisasi dan menjaga marwah profesi wartawan.

    “Dengan terpilihnya Ketua PWI Pesisir Selatan yang baru, saya berharap seluruh anggota semakin kompak, solid, dan tidak ada lagi sekat-sekat. Ketua terpilih nantinya akan banyak berinteraksi dengan berbagai pihak, sehingga kekompakan organisasi menjadi modal utama,” ujarnya.

    Widya juga mengingatkan apabila pemerintah daerah memberikan dukungan melalui dana hibah, maka dana tersebut agar dimanfaatkan secara bertanggung jawab, terutama untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas wartawan.

    “Silakan manfaatkan dana hibah itu sebaik-baiknya. Sisihkan sebagian untuk peningkatan kapasitas wartawan melalui pelatihan dan pendidikan. Yang paling penting, seluruh anggota PWI tetap berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik dalam menjalankan tugas di lapangan,” katanya.

    Ia juga meminta kepengurusan baru segera menyusun program kerja sekaligus mempersiapkan partisipasi PWI Pesisir Selatan dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN).

    Di akhir sidang, Ketua PWI Sumbar secara resmi menutup rangkaian Konfercab PWI Pesisir Selatan.

    Sementara itu, pimpinan sidang pleno, Rega Desfinal, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menjaga suasana demokratis selama proses pemilihan berlangsung.

    “Alhamdulillah seluruh tahapan sidang berjalan lancar, tertib, dan sesuai tata tertib organisasi. Perbedaan pilihan merupakan hal yang biasa dalam demokrasi, namun setelah ketua terpilih ditetapkan, tidak ada lagi sekat-sekat. Saatnya seluruh anggota PWI Pesisir Selatan bersatu, mendukung kepengurusan baru, dan bersama-sama membesarkan organisasi agar semakin profesional, bermartabat, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ucap Rega.

    Dengan berakhirnya Konfercab tersebut, estafet kepemimpinan PWI Kabupaten Pesisir Selatan resmi berpindah kepada Robby Oktora Romanza. Tantangan berikutnya adalah menyusun kepengurusan baru, memperkuat kompetensi wartawan, serta menjaga soliditas organisasi demi menghadirkan pers yang profesional, independen, dan berintegritas di Kabupaten Pesisir Selatan.

    Pewarta: Hebatdiki

  • Ilhamsyah, Komisaris Independen Pelindo, Kunjungi Markas AJUM Bahas Penataan Tata Kelola Pelabuhan Tanjung Priok

    Ilhamsyah, Komisaris Independen Pelindo, Kunjungi Markas AJUM Bahas Penataan Tata Kelola Pelabuhan Tanjung Priok

    Jakarta, URADIO.ID – Komisaris Independen PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, Ilhamsyah, yang akrab disapa Boing, melakukan kunjungan silaturahmi ke Markas Aliansi Jakarta Utara Menggugat (AJUM), Jumat (17/7). Dalam kunjungan tersebut, Ilhamsyah bertemu langsung dengan Koordinator AJUM, Anung MHD, untuk mendengarkan berbagai aspirasi serta aktivitas advokasi yang selama ini dilakukan AJUM terkait persoalan lalu lintas angkutan peti kemas menuju dan dari Pelabuhan Tanjung Priok.

    Menurut Anung MHD, pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh keakraban. Ilhamsyah ingin memperoleh gambaran secara langsung mengenai berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di sekitar kawasan pelabuhan, khususnya konflik antara kendaraan trailer pengangkut peti kemas dengan pengguna jalan lainnya. Aspirasi yang disampaikan diharapkan dapat menjadi bahan masukan dalam upaya perbaikan tata kelola aktivitas logistik di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok.

    Sejak tahun 2018, AJUM secara konsisten menyuarakan berbagai keluhan masyarakat Jakarta Utara mengenai aktivitas logistik yang dinilai berdampak langsung terhadap keselamatan, kenyamanan, dan kelancaran mobilitas warga. Berbagai advokasi dilakukan terkait keberadaan sejumlah garasi dan depo peti kemas yang menurut AJUM perlu ditata agar sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku serta penegakan aturan, sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

    Selain itu, AJUM menginisiasi pengaturan dan pembatasan jam operasional kendaraan trailer pada jam-jam tertentu. Menurut AJUM, tingginya mobilitas kendaraan angkutan peti kemas di sejumlah ruas jalan Jakarta Utara kerap memicu konflik dengan pengguna jalan lain, terutama pengendara sepeda motor dan pejalan kaki. Pengaturan pembatasan operasional kendaraan berat dinilai efektif dan mampu menekan potensi kecelakaan lalu lintas sekaligus mengurangi jumlah korban jiwa.

    Dalam kesempatan tersebut, Ilhamsyah menyampaikan bahwa peningkatan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok merupakan konsekuensi dari pertumbuhan sektor logistik nasional. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas pelabuhan perlu diimbangi dengan penataan tata kelola yang lebih terintegrasi antara pengelola pelabuhan, operator logistik, depo peti kemas, garasi kendaraan trailer, perusahaan angkutan, serta pemerintah sebagai regulator.

    “Pertumbuhan aktivitas pelabuhan harus diikuti dengan tata kelola yang semakin baik. Integrasi antar pemangku kepentingan menjadi penting agar arus logistik berjalan lancar tanpa mengabaikan aspek keselamatan masyarakat dan kenyamanan pengguna jalan,” ujar Ilhamsyah.

    Ia menilai berbagai persoalan yang muncul di sekitar kawasan pelabuhan tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu institusi. Dibutuhkan komunikasi yang berkesinambungan serta kolaborasi seluruh pihak agar setiap kebijakan yang diambil mampu menjawab kebutuhan dunia usaha sekaligus melindungi kepentingan masyarakat.

    Ilhamsyah juga menyatakan kesiapannya untuk ikut memfasilitasi komunikasi antara AJUM dengan berbagai instansi yang memiliki kewenangan dan regulasi dalam pengelolaan kawasan kota pelabuhan dan transportasi. Menurutnya, dialog yang konstruktif merupakan langkah awal untuk merumuskan solusi bersama terhadap berbagai persoalan yang selama ini menjadi perhatian masyarakat.

    “Saya berharap seluruh pihak dapat duduk bersama, saling mendengarkan, kemudian mencari jalan keluar yang terbaik. Persoalan ini menyangkut kepentingan banyak pihak, sehingga penyelesaiannya pun harus dilakukan secara kolaboratif,” katanya.

    Koordinator AJUM, Anung MHD, menyambut baik kunjungan tersebut dan mengapresiasi kesediaan Ilhamsyah untuk mendengar secara langsung aspirasi masyarakat. Menurutnya, komunikasi yang terbuka antara masyarakat sipil dengan para pemangku kepentingan menjadi modal penting dalam membangun tata kelola kawasan pelabuhan yang lebih baik.

    AJUM berharap berbagai masukan yang selama ini disampaikan dapat menjadi perhatian dalam proses penyusunan kebijakan, khususnya yang berkaitan dengan penataan depo peti kemas, garasi kendaraan trailer, pengaturan lalu lintas angkutan logistik, serta peningkatan aspek keselamatan di ruas-ruas jalan menuju Pelabuhan Tanjung Priok.

    Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Tanjung Priok menghadapi tantangan berupa meningkatnya volume distribusi logistik yang berdampak pada kepadatan lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama. Kondisi tersebut menuntut adanya penguatan koordinasi lintas sektor agar kelancaran arus barang sebagai urat nadi perekonomian nasional dapat berjalan seiring dengan perlindungan terhadap keselamatan masyarakat pengguna jalan.

    Pertemuan antara Komisaris Independen Pelindo dan AJUM diharapkan menjadi awal dari komunikasi yang lebih intensif antara masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah. Dengan semangat kolaborasi, berbagai persoalan yang selama ini muncul di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok diharapkan dapat diselesaikan melalui langkah-langkah yang terukur, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan publik tanpa mengurangi peran strategis pelabuhan sebagai gerbang utama perdagangan Indonesia.

    Pewarta: Agustian

  • Ketua Koordinator AJUM Sambangi Keluarga Korban Lakalantas, Menguatkan Ikhtiar Mencari Keadilan

    Ketua Koordinator AJUM Sambangi Keluarga Korban Lakalantas, Menguatkan Ikhtiar Mencari Keadilan

    URADIO.ID, Jakarta — Terik matahari siang itu terasa begitu menyengat di kawasan Babelan. Jalanan pasar yang padat dan debu kendaraan yang beterbangan menjadi saksi langkah Anung, Ketua Koordinator Aliansi Jakarta Utara Menggugat (AJUM), saat mendatangi rumah keluarga almarhum Bagus Satrio Rabu (13/5/2026), korban kecelakaan lalu lintas yang meninggal dunia usai terlindas truk trailer di jalan Sungai Tiram pada hari Jumat (1/5/2026).

    Rumah sederhana yang tidak jauh dari Pasar Babelan itu kini menyimpan duka yang belum benar-benar reda. Di dalam rumah tersebut, kedua orang tua korban harus mencoba tegar setelah kehilangan seorang anak yang menjadi tulang punggung keluarga dan seorang istri menjalani hari-hari tanpa suami, sementara dua anak mereka yang masih balita belum sepenuhnya memahami bahwa sosok ayah yang biasa memeluk dan menemani mereka kini tak akan kembali pulang.

    Kedatangan Anung bukan sekadar kunjungan biasa. Ia hadir membawa empati, mencoba menguatkan keluarga korban yang hingga hari ini masih berjuang menghadapi kehilangan sekaligus mencari keadilan atas peristiwa tragis yang merenggut nyawa tulang punggung keluarga tersebut.

    Suasana haru terasa ketika keluarga korban menceritakan kembali detik-detik kabar duka itu datang. Di tengah kesedihan yang masih membekas, Anung meminta keluarga untuk tetap tabah dan tidak merasa sendiri menghadapi persoalan ini.

    “Perjuangan mencari keadilan tidak boleh berhenti. Kami hadir untuk mendampingi keluarga korban agar kasus ini dikawal sampai tuntas,” ujar Anung dengan nada penuh keprihatinan.

    Menurutnya, tragedi yang menimpa Bagus Satrio bukan sekadar kecelakaan biasa. Ia menilai ada persoalan tata kelola lalu lintas dan pengawasan kendaraan berat yang selama ini kerap diabaikan, terutama terkait keberadaan garasi maupun operasional truk trailer yang berada dekat kawasan pemukiman warga.

    Anung menyayangkan lemahnya ketegasan penegakan hukum terhadap aktivitas kendaraan berat yang melintas di jalur yang bukan peruntukannya. Ia menegaskan bahwa aturan sebenarnya telah jelas diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

    “Jangan sampai nyawa masyarakat terus menjadi korban karena pembiaran. Kendaraan besar seperti trailer harus diawasi ketat, termasuk lokasi garasi dan jalur operasionalnya. Negara harus hadir melindungi warga,” tegasnya.

    Bagi keluarga almarhum Bagus Satrio, keadilan bukan sekadar proses hukum. Lebih dari itu, mereka berharap tidak ada lagi keluarga lain yang mengalami kehilangan serupa akibat kelalaian dan lemahnya pengawasan.

    Di sela percakapan, sesekali raut wajah orang tua korban nampak menyimpan kesedihan mendalam. Suasana itu membuat kunjungan siang tersebut terasa begitu menyentuh. Duka keluarga kecil di Babelan itu menjadi pengingat bahwa di balik angka statistik kecelakaan lalu lintas, selalu ada keluarga yang kehilangan harapan, kehilangan masa depan, dan kehilangan orang tercinta.

    AJUM berharap kasus yang menimpa Bagus Satrio dapat menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan aparat penegak hukum untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap pengawasan kendaraan berat di kawasan padat penduduk.

    Sebab bagi keluarga korban, keadilan bukan hanya tentang menghukum siapa yang bersalah, tetapi juga memastikan tragedi serupa tidak kembali terulang.

  • Menjaga Bumi sebagai Ibadah: 30 Pemuda Muslim Rumuskan Aksi Transisi Energi Berkeadilan di Bandung

    Menjaga Bumi sebagai Ibadah: 30 Pemuda Muslim Rumuskan Aksi Transisi Energi Berkeadilan di Bandung

    URADIO.ID, Bandung — Di tengah suasana khusyuk bulan suci Ramadan, puluhan pemuda Muslim berkumpul di Kota Bandung untuk merumuskan langkah nyata menjaga bumi sebagai bagian dari ibadah. Sebanyak 30 peserta dari berbagai latar belakang aktivis sosial, lingkungan, dan organisasi komunitas mengikuti Pesantren Kilat Bengkel Hijrah Iklim, sebuah forum refleksi sekaligus aksi untuk mendorong transisi energi yang berkeadilan di Indonesia.

    Kegiatan yang berlangsung pada 9–11 Maret 2026 di kawasan Ecocamp, Dago, Kota Bandung ini diselenggarakan oleh MOSAIC – Muslims for Shared Action on Climate Impact bersama AktivAsia, serta didukung oleh komunitas Ruang Eskalasi dan jaringan RUTE Berkeadilan Jawa Barat. Mengusung tema Transisi Energi Berkeadilan dan Kepedulian Lingkungan, kegiatan ini memadukan pendekatan spiritual, intelektual, dan aksi sosial.

    Berbeda dari pesantren kilat pada umumnya, Bengkel Hijrah Iklim tidak hanya berisi kegiatan ibadah seperti qiyamul lail dan tadabbur Al-Qur’an, tetapi juga diskusi mendalam mengenai krisis iklim global yang dampaknya semakin terasa di Indonesia. Peserta diajak merumuskan solusi berbasis nilai-nilai Islam, termasuk pendekatan Green Ziswaf—integrasi zakat, infak, wakaf, dan energi untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.

    Project Lead RUTE Berkeadilan Jabar, Erland Fabian, menilai momentum Ramadan menjadi ruang refleksi penting bagi generasi muda Muslim untuk memahami hubungan spiritual antara manusia dan alam. Menurutnya, menjaga lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari amanah keagamaan.

    Perspektif tersebut juga diperdalam oleh Niki Alma Febriana Fauzi dari Majelis Tarjih Muhammadiyah yang menekankan bahwa relasi manusia dengan alam merupakan bagian dari praktik ibadah. Alam, katanya, bukan hanya tempat tinggal, melainkan amanah yang harus dirawat sebagai bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

    Selain refleksi spiritual, para peserta juga dibekali kemampuan kampanye dan literasi media. Narasumber dari AktivAsia, Didit Wicaksono, menegaskan pentingnya generasi muda memanfaatkan ruang digital untuk membangun narasi positif mengenai isu lingkungan dan transisi energi.

    Direktur Program MOSAIC, Aldy Permana, menyebut kegiatan ini merupakan rangkaian keempat setelah sebelumnya digelar di beberapa kota di Indonesia. Dari program tersebut, puluhan inisiatif aksi lingkungan telah lahir dari para pemimpin muda Muslim.

    Melalui Bengkel Hijrah Iklim, para peserta tidak hanya berdiskusi, tetapi juga mempresentasikan rencana aksi nyata. Harapannya, gerakan ini melahirkan generasi muda Muslim yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga berani mengambil peran dalam menjaga kelestarian bumi dan memperjuangkan keadilan energi di Indonesia.

    sumber : Bengkel Hijrah Iklim
    pewarta : Hebatdiki

  • Sako Pramuka SIAP Sambut Sukacita Terpilihnya KH Sodik Mudjahid sebagai Ketua BAZNAS

    Sako Pramuka SIAP Sambut Sukacita Terpilihnya KH Sodik Mudjahid sebagai Ketua BAZNAS

    URADIO.ID, Terpilihnya KH Sodik Mudjahid sebagai Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) disambut penuh sukacita oleh berbagai kalangan, termasuk Sako Pramuka Syarikat Islam Angkatan Pandu. Sosok yang dikenal amanah, sederhana, dan tawaduk ini diyakini mampu membawa BAZNAS semakin berkembang serta memberi manfaat yang lebih luas bagi umat, bangsa dan negara.

    Ucapan selamat disampaikan oleh Willy Tjokroaminoto selaku KaPinsakonas Syarikat Islam Angkatan Pandu. Menurutnya, KH Sodik Mudjahid merupakan figur yang memiliki integritas serta komitmen kuat dalam pengabdian kepada umat.

    “Saya mengenal beliau sebagai orang yang amanah dan tawaduk. Saya yakin di bawah pimpinan beliau, BAZNAS akan semakin berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi umat dan bangsa,” ujar Willy.

    Pengangkatan pimpinan baru BAZNAS ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan Presiden oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar kepada jajaran pengurus BAZNAS masa jabatan 2026–2031 di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (10/3/2026).

    Sebanyak sebelas tokoh menerima amanah sebagai pimpinan BAZNAS periode ini, yakni Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., Dr. H. Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si., Dr. H. Rizaludin Kurniawan, M.Si., Saidah Sakwan, M.A., H. Ending Syarifuddin, M.E., H. Idy Muzayyad, S.H.I., M.Si., H. Mokhamad Mahdum, SE, MIDec, PhD, Ak, CA, CPA, CRP, GRCE, CWM, CHRP., Hj. Neyla Saida Anwar, Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag., Dr. Drs. Agus Fatoni, M.Si., serta Mochamad Agus Rofiudin, S.Kom., M.M.

    Dalam sambutannya, Menteri Agama menyampaikan rasa syukur atas terbitnya payung hukum kepengurusan baru tersebut sehingga roda organisasi BAZNAS dapat segera berjalan optimal dalam mengelola potensi zakat nasional.

    Sako Pramuka Syarikat Islam Angkatan Pandu pun berharap kepemimpinan baru ini dapat memperkuat peran BAZNAS sebagai lembaga strategis dalam pemberdayaan umat melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah.

    “Selamat mengemban amanah. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan menjaga KH Sodik Mudjahid dalam menjalankan tugas mulia ini,” tutup Willy.

  • Ramadan Tiba di Depok: Hangatnya Sahur Pertama hingga Riuh Berburu Takjil

    Ramadan Tiba di Depok: Hangatnya Sahur Pertama hingga Riuh Berburu Takjil

    Suasana 1 Ramadan 1447 H di Kota Depok terasa berbeda sejak dini hari. Denting alarm sahur bersahutan, suara azan Subuh menggema dari masjid-masjid, menghadirkan nuansa religius yang kembali dirindukan warga.

    Di sejumlah kawasan seperti Beji dan Pancoran Mas, warga tampak memadati masjid untuk menunaikan salat Subuh berjamaah. Momentum hari pertama puasa dimanfaatkan untuk memulai kebiasaan baik, mulai dari tadarus Al-Qur’an hingga berbagi makanan sahur kepada tetangga.

    Memasuki sore hari, denyut Ramadan semakin terasa. Jalan Margonda Raya dipenuhi pedagang musiman yang menjajakan aneka takjil. Kolak pisang, es buah, hingga gorengan menjadi primadona. Warga berburu hidangan berbuka, sementara pelaku UMKM mengaku bersyukur karena omzet mulai meningkat sejak hari pertama.

    “Alhamdulillah, pembeli ramai. Ramadan selalu membawa rezeki,” ujar Siti (42), pedagang takjil yang setiap tahun membuka lapak di kawasan tersebut.

    Tak hanya aktivitas ekonomi yang menggeliat, semangat berbagi juga tumbuh. Sejumlah komunitas pemuda terlihat membagikan paket takjil gratis kepada pengendara yang melintas. Senyum dan ucapan terima kasih menjadi pemandangan yang menghangatkan sore itu.

    Malam harinya, masjid-masjid kembali dipenuhi jamaah salat tarawih. Anak-anak berlarian membawa sajadah kecil, sementara orang tua duduk khusyuk menanti iqamah. Ramadhan di Depok bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi juga perayaan kebersamaan yang sederhana namun bermakna.

    Hari pertama puasa menjadi penanda bahwa Ramadan kembali menyapa dengan harapan baru—menguatkan iman, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan kepedulian di tengah kehidupan kota yang dinamis.

  • Komitmen KOWANI Membersamai Peran Perempuan Indonesia

    Komitmen KOWANI Membersamai Peran Perempuan Indonesia

    Sejarah panjang perjuangan perempuan Indonesia menemukan momentumnya pada 22 Desember 1928 melalui Kongres Perempuan Indonesia yang digelar di Yogyakarta. Dari peristiwa bersejarah itulah lahir organisasi payung bernama Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), yang menyatukan beragam organisasi perempuan lintas latar belakang sosial, budaya, dan keagamaan. KOWANI dibangun atas kesadaran kolektif bahwa kemerdekaan bangsa tak dapat dilepaskan dari peran aktif perempuan, baik dalam perjuangan nasional maupun dalam membangun tatanan masyarakat yang adil dan beradab.

    Sejak berdiri, KOWANI menjadi ruang konsolidasi perjuangan perempuan Indonesia. Berbagai isu strategis—pendidikan perempuan, perlindungan ibu dan anak, kesehatan, kesetaraan hak, hingga penguatan peran perempuan dalam pembangunan—terus diperjuangkan secara berkesinambungan. Perempuan-perempuan yang tergabung dalam KOWANI hadir bukan hanya sebagai pelengkap sejarah, tetapi sebagai subjek perubahan yang ikut menentukan arah bangsa. Dalam lintasan satu abad, KOWANI konsisten merawat nilai persatuan, kebangsaan, dan keberagaman di tengah dinamika zaman yang terus berubah.

    Komitmen tersebut kembali ditegaskan oleh Ketua Umum KOWANI, Nannie Hadi Tjahjanto, SH, dalam sambutannya pada Perayaan Imlek di Panti Werdha Wisma Mulia, Sabtu, 14 Februari 2026. Ia menekankan pentingnya kebersamaan, persatuan, dan toleransi sebagai fondasi masyarakat inklusif. Menurutnya, di usia KOWANI yang kini menginjak 100 tahun, perempuan Indonesia dituntut semakin tangguh, adaptif, dan berdaya dalam menghadapi tantangan zaman—tanpa kehilangan jati diri kebangsaan dan nilai kemanusiaan.

    Seratus tahun perjalanan KOWANI menegaskan satu pesan penting: perempuan Indonesia adalah kekuatan strategis bangsa. Dengan sejarah yang kokoh, peran yang terus berkembang, serta komitmen pada persatuan dan inklusivitas, KOWANI hadir bukan hanya menjaga warisan perjuangan, tetapi juga menyiapkan perempuan Indonesia untuk menjawab masa depan dengan percaya diri dan solidaritas.

  • Omah Opah Rayakan Imlek dengan Sukacita

    Omah Opah Rayakan Imlek dengan Sukacita

    Perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung penuh kehangatan di Panti Werdha Wisma Mulia, Sabtu, 14 Februari 2026. Mengusung tema Harmoni Imlek Nusantara, suasana kebersamaan terasa sejak awal acara. Sebanyak 53 omah dan opah tampak antusias mengikuti rangkaian perayaan, wajah-wajah mereka memancarkan sukacita saat lantunan musik, dekorasi khas Imlek, dan sapaan hangat para relawan menyatu dalam satu ruang kebahagiaan.

    Dalam sambutannya, Penanggung Jawab Panti, Ibu Hanifah Husein, menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan bagi omah dan opah. Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai perbaikan sarana dan prasarana yang kini semakin nyaman dan layak. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para donatur yang telah berkontribusi memenuhi kebutuhan panti, mengingat dukungan dari keluarga omah dan opah masih sangat terbatas. Apresiasi khusus disampaikan kepada para relawan yang dengan tulus mendermakan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membersamai para lansia.

    Makna kebersamaan turut ditekankan oleh Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Nannie Hadi Tjahjanto, SH, dalam sambutannya. Ia menegaskan pentingnya persatuan dan toleransi sebagai fondasi masyarakat inklusif. Di usia KOWANI yang genap 100 tahun, perempuan Indonesia, menurutnya, dituntut semakin tangguh, adaptif, dan berdaya menghadapi tantangan zaman, tanpa meninggalkan jati diri kebangsaan dan nilai kemanusiaan.

    Rangkaian acara semakin semarak dengan penampilan traditional modern dance oleh karyawan panti, hiburan interaktif dan gim kebersamaan dari komunitas relawan, serta atraksi barongsai yang disambut tepuk tangan meriah omah dan opah. Setiap penampilan menjadi ruang perjumpaan lintas generasi yang menghidupkan semangat Imlek dalam nuansa Nusantara.

    Perayaan Imlek ini turut dihadiri Hj. Jamilah anggota DPRD DKI Jakarta, jajaran Pengurus KOWANI, serta keluarga omah dan opah. Mengakhiri acara ditutup dengan doa oleh pandita memohon kepada Maha Pencipta agar selalu diberikan kemuliaan, Kesehatan dan kesejahteraan. Acara kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah.

  • Dari Cinta Rasul hingga Gaza: Sulis Merawat Shalawat Sepanjang Zaman

    Dari Cinta Rasul hingga Gaza: Sulis Merawat Shalawat Sepanjang Zaman

    Jumat, 13 Februari 2026, suasana hangat dan khidmat menyelimuti Ruang Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di tengah para tamu undangan, tampak Sulis hadir mengenakan busana serba putih. Ia menyapa satu per satu hadirin yang menantikan peluncuran dua karya terbarunya, Suara Sukma Palestina (Shalawat Cinta untuk Gaza) dan Shalawat Cinta (Satukan Hati)”, lagu yang menjadi penanda konsistensinya dalam menapaki jalan dakwah melalui musik.

    Nama Sulis telah lekat dengan tembang shalawat sejak ia memulai kariernya di usia belia pada era 1990-an bersama Haddad Alwi. Album Cinta Rasul menjadi karya monumental yang mengantarkan suaranya dikenal luas dan terus diputar dari generasi ke generasi, terutama setiap bulan Ramadan. Di tengah perubahan selera musik dan zaman, Sulis tetap teguh menjaga napas shalawat sebagai identitas dan pengabdian.

    Acara ini dihadiri kerabat terdekat, musisi, budayawan, serta sahabat-sahabat Sulis Cinta Rasul. Sejumlah duta besar negara sahabat—Malaysia, Palestina, dan Iran—turut hadir, bersama Menteri Koperasi Indonesia, Ferry J Juliantono. Dalam suasana penuh kekeluargaan, kedua orang tua Sulis tampak hadir dan duduk di antara tamu undangan. Sulis menegaskan bahwa konsistensinya melantunkan shalawat tak lepas dari peran besar orang tua yang sejak kecil menanamkan nilai keimanan, kedisiplinan, dan kecintaan pada seni yang bernilai dakwah. Ia juga mengungkapkan bahwa di tengah kelelahan berkarya, energi positif terus mengalir dari dukungan keluarga, terutama orang tua dan suami yang setia mendampingi perjalanan hidup dan seninya.

    Perwakilan Duta Besar Palestina berkesempatan memberikan sambutan, beliau menyampaikan terima kasih atas dukungan rakyat Indonesia terhadap warga Gaza yang mengalami penindasan juga memberikan apresiasi serta menyampaikan rasa terima kasih atas lagu shalawat yang dipersembahkan untuk rakyat Gaza. 

    Ferry J Juliantono yang kini menjabat sebagai Menteri Koperasi menyambut baik kehadiran lagu shalawat untuk Gaza dan shalawat cinta yang dinyanyikan oleh Sulis. Lebih lanjut beliau menegaskan komitmen Presiden Prabowo Subianto serta seluruh rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan menciptakan  perdamaian  Sementara itu budayawan yang akrab disapa Bang Sem turut memberi apresiasi atas kematangan Sulis yang konsisten menjaga marwah shalawat di tengah dinamika industri musik.

    Puncak emosional terjadi saat Sulis mempersembahkan “Shalawat untuk Gaza” sebagai wujud kepedulian dan solidaritas bagi kemerdekaan rakyat Palestina. Air matanya berurai, suaranya bergetar, dan sesekali ia menyerukan, “Free, free Palestine.”

    Menutup acara, selain membawakan Shalawat untuk Gaza dan Shalawat Cinta, Sulis pun membawakan sejumlah tembang shalawat yang telah lama melekat di hati pendengarnya. Ia mengajak hadirin bersenandung bersama, menciptakan suasana khusyuk dan penuh kebersamaan. Di panggung itu, Sulis menegaskan bahwa shalawat bukan sekadar lagu, melainkan doa, pengabdian, dan jalan cinta yang terus ia jaga untuk kemanusiaan dan perdamaian.