Category: Kegiatan

  • Menjaga Bumi sebagai Ibadah: 30 Pemuda Muslim Rumuskan Aksi Transisi Energi Berkeadilan di Bandung

    Menjaga Bumi sebagai Ibadah: 30 Pemuda Muslim Rumuskan Aksi Transisi Energi Berkeadilan di Bandung

    URADIO.ID, Bandung — Di tengah suasana khusyuk bulan suci Ramadan, puluhan pemuda Muslim berkumpul di Kota Bandung untuk merumuskan langkah nyata menjaga bumi sebagai bagian dari ibadah. Sebanyak 30 peserta dari berbagai latar belakang aktivis sosial, lingkungan, dan organisasi komunitas mengikuti Pesantren Kilat Bengkel Hijrah Iklim, sebuah forum refleksi sekaligus aksi untuk mendorong transisi energi yang berkeadilan di Indonesia.

    Kegiatan yang berlangsung pada 9–11 Maret 2026 di kawasan Ecocamp, Dago, Kota Bandung ini diselenggarakan oleh MOSAIC – Muslims for Shared Action on Climate Impact bersama AktivAsia, serta didukung oleh komunitas Ruang Eskalasi dan jaringan RUTE Berkeadilan Jawa Barat. Mengusung tema Transisi Energi Berkeadilan dan Kepedulian Lingkungan, kegiatan ini memadukan pendekatan spiritual, intelektual, dan aksi sosial.

    Berbeda dari pesantren kilat pada umumnya, Bengkel Hijrah Iklim tidak hanya berisi kegiatan ibadah seperti qiyamul lail dan tadabbur Al-Qur’an, tetapi juga diskusi mendalam mengenai krisis iklim global yang dampaknya semakin terasa di Indonesia. Peserta diajak merumuskan solusi berbasis nilai-nilai Islam, termasuk pendekatan Green Ziswaf—integrasi zakat, infak, wakaf, dan energi untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.

    Project Lead RUTE Berkeadilan Jabar, Erland Fabian, menilai momentum Ramadan menjadi ruang refleksi penting bagi generasi muda Muslim untuk memahami hubungan spiritual antara manusia dan alam. Menurutnya, menjaga lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari amanah keagamaan.

    Perspektif tersebut juga diperdalam oleh Niki Alma Febriana Fauzi dari Majelis Tarjih Muhammadiyah yang menekankan bahwa relasi manusia dengan alam merupakan bagian dari praktik ibadah. Alam, katanya, bukan hanya tempat tinggal, melainkan amanah yang harus dirawat sebagai bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

    Selain refleksi spiritual, para peserta juga dibekali kemampuan kampanye dan literasi media. Narasumber dari AktivAsia, Didit Wicaksono, menegaskan pentingnya generasi muda memanfaatkan ruang digital untuk membangun narasi positif mengenai isu lingkungan dan transisi energi.

    Direktur Program MOSAIC, Aldy Permana, menyebut kegiatan ini merupakan rangkaian keempat setelah sebelumnya digelar di beberapa kota di Indonesia. Dari program tersebut, puluhan inisiatif aksi lingkungan telah lahir dari para pemimpin muda Muslim.

    Melalui Bengkel Hijrah Iklim, para peserta tidak hanya berdiskusi, tetapi juga mempresentasikan rencana aksi nyata. Harapannya, gerakan ini melahirkan generasi muda Muslim yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga berani mengambil peran dalam menjaga kelestarian bumi dan memperjuangkan keadilan energi di Indonesia.

    sumber : Bengkel Hijrah Iklim
    pewarta : Hebatdiki

  • Sako Pramuka SIAP Sambut Sukacita Terpilihnya KH Sodik Mudjahid sebagai Ketua BAZNAS

    Sako Pramuka SIAP Sambut Sukacita Terpilihnya KH Sodik Mudjahid sebagai Ketua BAZNAS

    URADIO.ID, Terpilihnya KH Sodik Mudjahid sebagai Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) disambut penuh sukacita oleh berbagai kalangan, termasuk Sako Pramuka Syarikat Islam Angkatan Pandu. Sosok yang dikenal amanah, sederhana, dan tawaduk ini diyakini mampu membawa BAZNAS semakin berkembang serta memberi manfaat yang lebih luas bagi umat, bangsa dan negara.

    Ucapan selamat disampaikan oleh Willy Tjokroaminoto selaku KaPinsakonas Syarikat Islam Angkatan Pandu. Menurutnya, KH Sodik Mudjahid merupakan figur yang memiliki integritas serta komitmen kuat dalam pengabdian kepada umat.

    “Saya mengenal beliau sebagai orang yang amanah dan tawaduk. Saya yakin di bawah pimpinan beliau, BAZNAS akan semakin berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi umat dan bangsa,” ujar Willy.

    Pengangkatan pimpinan baru BAZNAS ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan Presiden oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar kepada jajaran pengurus BAZNAS masa jabatan 2026–2031 di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (10/3/2026).

    Sebanyak sebelas tokoh menerima amanah sebagai pimpinan BAZNAS periode ini, yakni Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., Dr. H. Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si., Dr. H. Rizaludin Kurniawan, M.Si., Saidah Sakwan, M.A., H. Ending Syarifuddin, M.E., H. Idy Muzayyad, S.H.I., M.Si., H. Mokhamad Mahdum, SE, MIDec, PhD, Ak, CA, CPA, CRP, GRCE, CWM, CHRP., Hj. Neyla Saida Anwar, Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag., Dr. Drs. Agus Fatoni, M.Si., serta Mochamad Agus Rofiudin, S.Kom., M.M.

    Dalam sambutannya, Menteri Agama menyampaikan rasa syukur atas terbitnya payung hukum kepengurusan baru tersebut sehingga roda organisasi BAZNAS dapat segera berjalan optimal dalam mengelola potensi zakat nasional.

    Sako Pramuka Syarikat Islam Angkatan Pandu pun berharap kepemimpinan baru ini dapat memperkuat peran BAZNAS sebagai lembaga strategis dalam pemberdayaan umat melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah.

    “Selamat mengemban amanah. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan menjaga KH Sodik Mudjahid dalam menjalankan tugas mulia ini,” tutup Willy.

  • Ramadan Tiba di Depok: Hangatnya Sahur Pertama hingga Riuh Berburu Takjil

    Ramadan Tiba di Depok: Hangatnya Sahur Pertama hingga Riuh Berburu Takjil

    Suasana 1 Ramadan 1447 H di Kota Depok terasa berbeda sejak dini hari. Denting alarm sahur bersahutan, suara azan Subuh menggema dari masjid-masjid, menghadirkan nuansa religius yang kembali dirindukan warga.

    Di sejumlah kawasan seperti Beji dan Pancoran Mas, warga tampak memadati masjid untuk menunaikan salat Subuh berjamaah. Momentum hari pertama puasa dimanfaatkan untuk memulai kebiasaan baik, mulai dari tadarus Al-Qur’an hingga berbagi makanan sahur kepada tetangga.

    Memasuki sore hari, denyut Ramadan semakin terasa. Jalan Margonda Raya dipenuhi pedagang musiman yang menjajakan aneka takjil. Kolak pisang, es buah, hingga gorengan menjadi primadona. Warga berburu hidangan berbuka, sementara pelaku UMKM mengaku bersyukur karena omzet mulai meningkat sejak hari pertama.

    “Alhamdulillah, pembeli ramai. Ramadan selalu membawa rezeki,” ujar Siti (42), pedagang takjil yang setiap tahun membuka lapak di kawasan tersebut.

    Tak hanya aktivitas ekonomi yang menggeliat, semangat berbagi juga tumbuh. Sejumlah komunitas pemuda terlihat membagikan paket takjil gratis kepada pengendara yang melintas. Senyum dan ucapan terima kasih menjadi pemandangan yang menghangatkan sore itu.

    Malam harinya, masjid-masjid kembali dipenuhi jamaah salat tarawih. Anak-anak berlarian membawa sajadah kecil, sementara orang tua duduk khusyuk menanti iqamah. Ramadhan di Depok bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi juga perayaan kebersamaan yang sederhana namun bermakna.

    Hari pertama puasa menjadi penanda bahwa Ramadan kembali menyapa dengan harapan baru—menguatkan iman, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan kepedulian di tengah kehidupan kota yang dinamis.

  • Komitmen KOWANI Membersamai Peran Perempuan Indonesia

    Komitmen KOWANI Membersamai Peran Perempuan Indonesia

    Sejarah panjang perjuangan perempuan Indonesia menemukan momentumnya pada 22 Desember 1928 melalui Kongres Perempuan Indonesia yang digelar di Yogyakarta. Dari peristiwa bersejarah itulah lahir organisasi payung bernama Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), yang menyatukan beragam organisasi perempuan lintas latar belakang sosial, budaya, dan keagamaan. KOWANI dibangun atas kesadaran kolektif bahwa kemerdekaan bangsa tak dapat dilepaskan dari peran aktif perempuan, baik dalam perjuangan nasional maupun dalam membangun tatanan masyarakat yang adil dan beradab.

    Sejak berdiri, KOWANI menjadi ruang konsolidasi perjuangan perempuan Indonesia. Berbagai isu strategis—pendidikan perempuan, perlindungan ibu dan anak, kesehatan, kesetaraan hak, hingga penguatan peran perempuan dalam pembangunan—terus diperjuangkan secara berkesinambungan. Perempuan-perempuan yang tergabung dalam KOWANI hadir bukan hanya sebagai pelengkap sejarah, tetapi sebagai subjek perubahan yang ikut menentukan arah bangsa. Dalam lintasan satu abad, KOWANI konsisten merawat nilai persatuan, kebangsaan, dan keberagaman di tengah dinamika zaman yang terus berubah.

    Komitmen tersebut kembali ditegaskan oleh Ketua Umum KOWANI, Nannie Hadi Tjahjanto, SH, dalam sambutannya pada Perayaan Imlek di Panti Werdha Wisma Mulia, Sabtu, 14 Februari 2026. Ia menekankan pentingnya kebersamaan, persatuan, dan toleransi sebagai fondasi masyarakat inklusif. Menurutnya, di usia KOWANI yang kini menginjak 100 tahun, perempuan Indonesia dituntut semakin tangguh, adaptif, dan berdaya dalam menghadapi tantangan zaman—tanpa kehilangan jati diri kebangsaan dan nilai kemanusiaan.

    Seratus tahun perjalanan KOWANI menegaskan satu pesan penting: perempuan Indonesia adalah kekuatan strategis bangsa. Dengan sejarah yang kokoh, peran yang terus berkembang, serta komitmen pada persatuan dan inklusivitas, KOWANI hadir bukan hanya menjaga warisan perjuangan, tetapi juga menyiapkan perempuan Indonesia untuk menjawab masa depan dengan percaya diri dan solidaritas.

  • Omah Opah Rayakan Imlek dengan Sukacita

    Omah Opah Rayakan Imlek dengan Sukacita

    Perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung penuh kehangatan di Panti Werdha Wisma Mulia, Sabtu, 14 Februari 2026. Mengusung tema Harmoni Imlek Nusantara, suasana kebersamaan terasa sejak awal acara. Sebanyak 53 omah dan opah tampak antusias mengikuti rangkaian perayaan, wajah-wajah mereka memancarkan sukacita saat lantunan musik, dekorasi khas Imlek, dan sapaan hangat para relawan menyatu dalam satu ruang kebahagiaan.

    Dalam sambutannya, Penanggung Jawab Panti, Ibu Hanifah Husein, menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan bagi omah dan opah. Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai perbaikan sarana dan prasarana yang kini semakin nyaman dan layak. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para donatur yang telah berkontribusi memenuhi kebutuhan panti, mengingat dukungan dari keluarga omah dan opah masih sangat terbatas. Apresiasi khusus disampaikan kepada para relawan yang dengan tulus mendermakan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membersamai para lansia.

    Makna kebersamaan turut ditekankan oleh Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Nannie Hadi Tjahjanto, SH, dalam sambutannya. Ia menegaskan pentingnya persatuan dan toleransi sebagai fondasi masyarakat inklusif. Di usia KOWANI yang genap 100 tahun, perempuan Indonesia, menurutnya, dituntut semakin tangguh, adaptif, dan berdaya menghadapi tantangan zaman, tanpa meninggalkan jati diri kebangsaan dan nilai kemanusiaan.

    Rangkaian acara semakin semarak dengan penampilan traditional modern dance oleh karyawan panti, hiburan interaktif dan gim kebersamaan dari komunitas relawan, serta atraksi barongsai yang disambut tepuk tangan meriah omah dan opah. Setiap penampilan menjadi ruang perjumpaan lintas generasi yang menghidupkan semangat Imlek dalam nuansa Nusantara.

    Perayaan Imlek ini turut dihadiri Hj. Jamilah anggota DPRD DKI Jakarta, jajaran Pengurus KOWANI, serta keluarga omah dan opah. Mengakhiri acara ditutup dengan doa oleh pandita memohon kepada Maha Pencipta agar selalu diberikan kemuliaan, Kesehatan dan kesejahteraan. Acara kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah.

  • Dari Cinta Rasul hingga Gaza: Sulis Merawat Shalawat Sepanjang Zaman

    Dari Cinta Rasul hingga Gaza: Sulis Merawat Shalawat Sepanjang Zaman

    Jumat, 13 Februari 2026, suasana hangat dan khidmat menyelimuti Ruang Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di tengah para tamu undangan, tampak Sulis hadir mengenakan busana serba putih. Ia menyapa satu per satu hadirin yang menantikan peluncuran dua karya terbarunya, Suara Sukma Palestina (Shalawat Cinta untuk Gaza) dan Shalawat Cinta (Satukan Hati)”, lagu yang menjadi penanda konsistensinya dalam menapaki jalan dakwah melalui musik.

    Nama Sulis telah lekat dengan tembang shalawat sejak ia memulai kariernya di usia belia pada era 1990-an bersama Haddad Alwi. Album Cinta Rasul menjadi karya monumental yang mengantarkan suaranya dikenal luas dan terus diputar dari generasi ke generasi, terutama setiap bulan Ramadan. Di tengah perubahan selera musik dan zaman, Sulis tetap teguh menjaga napas shalawat sebagai identitas dan pengabdian.

    Acara ini dihadiri kerabat terdekat, musisi, budayawan, serta sahabat-sahabat Sulis Cinta Rasul. Sejumlah duta besar negara sahabat—Malaysia, Palestina, dan Iran—turut hadir, bersama Menteri Koperasi Indonesia, Ferry J Juliantono. Dalam suasana penuh kekeluargaan, kedua orang tua Sulis tampak hadir dan duduk di antara tamu undangan. Sulis menegaskan bahwa konsistensinya melantunkan shalawat tak lepas dari peran besar orang tua yang sejak kecil menanamkan nilai keimanan, kedisiplinan, dan kecintaan pada seni yang bernilai dakwah. Ia juga mengungkapkan bahwa di tengah kelelahan berkarya, energi positif terus mengalir dari dukungan keluarga, terutama orang tua dan suami yang setia mendampingi perjalanan hidup dan seninya.

    Perwakilan Duta Besar Palestina berkesempatan memberikan sambutan, beliau menyampaikan terima kasih atas dukungan rakyat Indonesia terhadap warga Gaza yang mengalami penindasan juga memberikan apresiasi serta menyampaikan rasa terima kasih atas lagu shalawat yang dipersembahkan untuk rakyat Gaza. 

    Ferry J Juliantono yang kini menjabat sebagai Menteri Koperasi menyambut baik kehadiran lagu shalawat untuk Gaza dan shalawat cinta yang dinyanyikan oleh Sulis. Lebih lanjut beliau menegaskan komitmen Presiden Prabowo Subianto serta seluruh rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan menciptakan  perdamaian  Sementara itu budayawan yang akrab disapa Bang Sem turut memberi apresiasi atas kematangan Sulis yang konsisten menjaga marwah shalawat di tengah dinamika industri musik.

    Puncak emosional terjadi saat Sulis mempersembahkan “Shalawat untuk Gaza” sebagai wujud kepedulian dan solidaritas bagi kemerdekaan rakyat Palestina. Air matanya berurai, suaranya bergetar, dan sesekali ia menyerukan, “Free, free Palestine.”

    Menutup acara, selain membawakan Shalawat untuk Gaza dan Shalawat Cinta, Sulis pun membawakan sejumlah tembang shalawat yang telah lama melekat di hati pendengarnya. Ia mengajak hadirin bersenandung bersama, menciptakan suasana khusyuk dan penuh kebersamaan. Di panggung itu, Sulis menegaskan bahwa shalawat bukan sekadar lagu, melainkan doa, pengabdian, dan jalan cinta yang terus ia jaga untuk kemanusiaan dan perdamaian.