Jejak Waktu yang Berubah
Angin laut utara Jakarta selalu berhembus sama, membawa bau garam dan debu halus yang melekat di paru-paru siapa saja yang tinggal di sini. Namun, bau itu kini tak lagi sama. Dulu, bau itu adalah tanda kedatangan, tanda kehidupan yang damai di pinggir pantai Tanjung Priok. Kini, bau itu bercampur dengan asap hitam knalpot, bau minyak tanah, dan debu jalanan yang tak pernah lagi turun hujan untuk membasuhnya bersih.
Di sepanjang jalan raya yang membelah kawasan ini, deru mesin berat terdengar seperti gemuruh abadi yang tak pernah istirahat. Ribuan truk kontainer, besar dan bising, hilir mudik siang dan malam. Mereka seolah menjadi tuan baru di tanah ini, menguasai setiap jengkal aspal, mendominasi setiap detik waktu, dan meninggalkan jejak ketakutan di hati setiap warga yang harus berjuang sekadar untuk menyeberang jalan menuju rumah sendiri.
Tanjung Priok, nama yang sudah tertanam kuat dalam sejarah Jakarta. Dibangun megah pada masa kolonial, menjadi gerbang kemajuan, tempat kapal-kapal besar bersandar membawa harapan dan perdagangan. Dulu, orang bangga tinggal di sini. Di sini tempat bertemunya budaya, tempat kerja yang memberi nafkah, tempat di mana suara pelaut dan pedagang menciptakan harmoni kehidupan. Di sini pula jalur kereta api tertua terpasang, menyambungkan tempat ini dengan jantung kota, menjadi saksi bisu bagaimana Batavia tumbuh menjadi Jakarta.
Tata kelola Akses Jalan Menuju Pelabuhan yang Buruk Berujung Hilangnya Nyawa orang
Bagi orang luar, Tanjung Priok adalah lambang kejayaan ekonomi Indonesia. Di sini barang masuk dan keluar, di sini roda perdagangan berputar cepat. Tapi bagi kami—warga yang lahir, tumbuh, dan tua di kawasan Cilincing, Marunda, dan sepanjang pinggiran pelabuhan ini—kejayaan itu terasa seperti kutukan perlahan yang memakan habis ketenangan kami.
Zona pelabuhan yang seharusnya terpisah jelas dari pemukiman, perlahan merayap masuk. Gudang-gudang berdiri berdesakan dengan rumah-rumah panggung kami. Jalur khusus angkutan barang tak pernah dibangun, sehingga jalanan yang dahulunya hanya cukup untuk warga berjalan kaki atau bersepeda, kini dipaksa menampung raksasa-raksasa besi seberat puluhan ton.
Kemacetan bukan lagi sekadar keterlambatan. Kemacetan di sini adalah penjara. Jalanan macet berjam-jam, bising tiada henti, udara yang dihirup terasa membakar tenggorokan. Dan yang paling menyakitkan: keamanan yang perlahan-lahan sirna, tergerus roda-roda besar itu.
Setiap hari, berita yang sama selalu terdengar. Ada anak kecil tertabrak saat pulang sekolah. Ada bapak-bapak yang tewas saat hendak membuka pintu gerbang rumahnya sendiri. Ada ibu-ibu yang ketakutan setengah mati hanya karena harus lewat di pinggir jalan raya. Kecelakaan menjadi makanan sehari-hari. Bahaya sudah bukan lagi ancaman, tapi tetangga yang tidur di samping kami setiap malam.
Di tengah kepungan itu, muncullah satu suara yang bersatu. Lahir sebuah aliansi yang digagas masyarakat. Kami menyebut diri, Aliansi Jakarta Utara Menggugat biasa populer orang menyebutnya AJUM. Bukan untuk menutup pelabuhan yang menjadi nyawa ekonomi negeri ini, bukan pula membenci kemajuan. Kami hanya menginginkan satu hal sederhana yang seolah menjadi sangat mahal di tanah kelahiran kami ini: tata ruang yang benar, jalan yang aman, dan hak untuk hidup tenang.
Kami ingin kembali ke masa di mana suara ombak lebih terdengar jelas daripada suara klakson truk. Kami ingin anak-anak kami bisa bermain di halaman rumah tanpa mata kami harus terus melekat mengawasi setiap kendaraan yang lewat. Kami ingin Jakarta Utara dikelola sebagai kota pelabuhan yang benar, di mana kemajuan dan kenyamanan warga berjalan beriringan, bukan saling membunuh.
Kembalikan Rasa Damai untuk Kami
Ini adalah kisah kami. Kisah tentang sebuah pelabuhan besar yang membanggakan negeri, namun bagi kami, warga yang tinggal di bayang-bayangnya, pelabuhan itu perlahan namun pasti, telah merampas damai kami. Dan kami, yang terjepit di antara megahnya gerbang laut dan kerasnya roda besi, mulai bangkit untuk menggugat.
Karena kami percaya: kemakmuran bangsa tidak seharusnya dibayar dengan darah dan air mata rakyatnya sendiri.
