Category: Koperasi Desa

  • Bazar Sembako Murah Koperasi Kelurahan Merah Putih Depok Jaya: Modal 390K Kini Jadi Motor Ekonomi Warga

    Bazar Sembako Murah Koperasi Kelurahan Merah Putih Depok Jaya: Modal 390K Kini Jadi Motor Ekonomi Warga

    DEPOK — Semangat gotong royong kembali hidup di tengah warga Depok Jaya. Pengurus Koperasi Kelurahan Merah Putih Depok Jaya menggelar bazar sembako murah mulai Senin (16/02/26) hingga Minggu (15/02/26), dibuka pukul 15.00–20.00 WIB. Koperasi yang beralamat di Jl. Nusantara Raya No. 1, Kota Depok. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa koperasi bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan ekonomi rakyat.

    Koperasi yang berdiri pada 17 Juli 2025 dan mulai menjalankan usaha sehari setelahnya itu diresmikan oleh Pemerintah Kota Depok. Meski terbilang baru, kiprahnya terbilang progresif. Dengan jumlah wilayah mencapai 8.000 KK dan populasi sekitar 24.000 jiwa, koperasi ini baru memiliki 52 anggota aktif, didukung 13 pengurus dan 3 pengawas.

    Struktur kepengurusan dipimpin Ketua Evie Pratiwi Handayani, Sekretaris Sugito dan Eko Pramudya, serta Bendahara Siti Hajar dan Rahmatia. Sementara Wakabid Usaha dan Anggota diisi Santi Dewi, Ana, dan Ail yang menjadi motor penggerak kegiatan bazar.

    Cerita perjuangan koperasi ini bermula dari modal awal hanya Rp390 ribu yang dibelikan telur. Selama sepekan berjualan telur, mereka mencatatkan keuntungan Rp900 ribu. Angka yang mungkin kecil bagi sebagian orang, tetapi besar bagi semangat kolektif warga.

    “Modalnya kecil, tapi semangatnya besar,” ujar Ail. Ia berharap pemerintah melalui PT. Agrinas Pangan Nusantara segera membangun gerai permanen agar operasional dan sosialisasi bisa berjalan lebih ideal. “Tolong disegerakan bangun gerai Koperasi Kelurahan Merah Putih Depok Jaya agar kami bisa mengoperasikan perekonomian dengan maksimal,” katanya.

    Santi Dewi, Wakabid Usaha dan Anggota, juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas program koperasi yang dinilai mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat. Ia berharap kesejahteraan pengurus juga menjadi perhatian.

    Dengan simpanan pokok Rp50 ribu dan simpanan wajib Rp10 ribu, koperasi ini membuka ruang partisipasi luas bagi masyarakat. Bazaar sembako murah bukan hanya transaksi jual beli, tetapi juga simbol kebangkitan ekonomi berbasis komunitas.

    Dari telur hingga sembako, dari ratusan ribu rupiah menjadi jutaan harapan—Koperasi Kelurahan Merah Putih Depok Jaya membuktikan bahwa membangun Indonesia bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Mari bangun Indonesia dengan berkoperasi.

  • Dari Cipinang untuk Indonesia: Koperasi Merah Putih Bangkitkan Ekonomi Warga dari Akar Rumput

    Dari Cipinang untuk Indonesia: Koperasi Merah Putih Bangkitkan Ekonomi Warga dari Akar Rumput

    Program Sapa KOPDES Merah Putih kembali menghadirkan perbincangan yang membumi dan relevan. Dipandu Yusron Jaenuari, episode kali ini menghadirkan Sarno Wibowo, Ketua Koperasi Kelurahan Merah Putih Cipinang, yang memotret bagaimana koperasi tumbuh dari denyut kehidupan warga.

    Kelurahan Cipinang berada di Kecamatan Pulogadung, dengan luas sekitar 2,89 km². Secara geografis berbatasan dengan Pulogadung dan Matraman di utara. Dengan jumlah penduduk sekitar 58.395 jiwa (data 2010), 13.857 kepala keluarga, 16 RW dan 187 RT, Cipinang adalah miniatur kepadatan urban Jakarta yang dinamis.

    Di tengah kompleksitas itu, Koperasi Kelurahan Merah Putih Cipinang hadir sebagai penggerak ekonomi kerakyatan. Bukan sekadar lembaga simpan pinjam, tetapi simpul distribusi dan solidaritas sosial. Pengurusnya berasal dari lintas profesi dan sektoral—mereka bekerja bukan semata hitung-hitungan profit, melainkan dengan komitmen sosial.

    “Keberadaan koperasi di tengah-tengah warga Cipinang tidak mengompas ekosistem ekonomi yang sudah ada. Justru menjadi pemasok baru barang-barang sembako ke warung-warung sekitar dengan harga murah,” ujar Sarno Wibowo dalam dialog yang hangat.

    Model ini menarik. Alih-alih bersaing dengan pelaku usaha kecil, koperasi memperkuat rantai pasok lokal. Warung tetap hidup, warga mendapat harga lebih terjangkau, dan sirkulasi ekonomi berputar di lingkungan sendiri. Inilah wajah koperasi modern: adaptif, kolaboratif, dan berbasis kebutuhan riil masyarakat.

    Perbincangan lengkapnya dapat disimak melalui kanal YouTube URadio Official dan Salam Radio Channel. Program ini bukan hanya ruang dialog, tetapi juga panggilan refleksi: bahwa membangun Indonesia bisa dimulai dari kelurahan, dari RT, dari koperasi.

    Di tengah tantangan ekonomi perkotaan, Koperasi Merah Putih Cipinang mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati bukan pada besarnya modal, melainkan pada solidaritas. Jika ekonomi digerakkan dari lingkungan sendiri, maka kemandirian bukan lagi slogan—melainkan gerakan nyata. Mari bangun Indonesia, mulai dari berkoperasi.

  • Sapa Koperasi Desa Merah Putih: Kiprah Kopdes Solog Bolaang Mongondow Bangun Ekonomi Kerakyatan dari 378 KK

    Sapa Koperasi Desa Merah Putih: Kiprah Kopdes Solog Bolaang Mongondow Bangun Ekonomi Kerakyatan dari 378 KK

    Gerakan ekonomi desa kembali menemukan panggung strategisnya melalui program variety talk show “Sapa Koperasi Desa Merah Putih” yang tayang live setiap Senin pukul 20.00 WIB selama 60 menit Salam Radio dan URadio serta di kanal YouTube Salam Radio Channel dan URadio Official. Dipandu oleh host Hebatdiki dan Yusron, program ini menjadi ruang dialog inspiratif tentang kebangkitan koperasi sebagai tulang punggung ekonomi rakyat.

    Pada episode perdana, sorotan mengarah ke Desa Solog, Kabupaten Bolaang Mongondow. Hadir sebagai narasumber, Ketua KOPDES Solog, Ibu Susi Indrianingsih Potabuga, memaparkan bagaimana Koperasi Desa Merah Putih Solog tumbuh di tengah wilayah seluas kurang lebih 2.732 hektare yang didominasi perkebunan, persawahan dan industri semen.

    Dengan jumlah 378 kepala keluarga, Desa Solog menyimpan potensi sekaligus tantangan. Ketergantungan pada sektor perkebunan membuat stabilitas ekonomi warga sangat dipengaruhi akses pasar dan permodalan. Di sinilah koperasi hadir sebagai manifestasi semangat baru—mengorganisir kekuatan kolektif warga agar memiliki daya tawar yang lebih kuat.

    Koperasi Desa Merah Putih Solog bukan sekadar lembaga simpan pinjam. Ia menjadi ruang gotong royong modern yang memperkuat kelembagaan, transparansi, dan distribusi manfaat ekonomi secara adil. Melalui penguatan struktur organisasi dan partisipasi anggota, warga desa berupaya membangun kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

    Dalam dialog yang hangat dan reflektif, Ibu Susi menegaskan bahwa koperasi adalah jalan tengah antara idealisme dan kebutuhan riil masyarakat. Ketika petani tidak lagi berjalan sendiri, ketika hasil kebun dikelola bersama, maka kesejahteraan tidak lagi menjadi wacana—melainkan proses yang terus diupayakan. Lebih lanjut Ibu Susi menambahkan bahwa gerai sembako dijadikan sebagai pusat distribusi untuk di pasok ke warung retail dimana pemiliknya adalah anggota Koperasi Desa Merah Putih Solog.

    Program ini menjadi bukti bahwa transformasi ekonomi tidak selalu dimulai dari kota besar. Dari desa dengan 378 kepala keluarga, lahir optimisme bahwa ekonomi kerakyatan tetap relevan dan adaptif di tengah dinamika zaman.

    Simak obrolan serunya di URadio Official dan Salam Radio Channel di YouTube. Jangan lupa subscribe dan tinggalkan jejak digital dengan memberikan komentar kamu. Karena perubahan besar sering kali dimulai dari percakapan sederhana—dan dari desa, masa depan ekonomi Indonesia sedang dirawat bersama.

  • Meneguhkan Ekonomi Rakyat dari Desa

    Meneguhkan Ekonomi Rakyat dari Desa

    Jakarta, 21 Februari 2026 – Desa adalah akar kehidupan ekonomi Indonesia. Dari sawah, ladang, pasar kecil, hingga warung sederhana, denyut ekonomi rakyat sesungguhnya berawal dari sana. Karena itu, ketika pemerintah mendorong penguatan koperasi desa, langkah tersebut bukan sekadar program administratif, melainkan ikhtiar strategis membangun kemandirian dari bawah.

    Belakangan, publik ramai membicarakan pernyataan pejabat pemerintah mengenai pengembangan Koperasi Desa (Kopdes) dan hubungannya dengan ritel modern. Perbincangan itu memunculkan pro dan kontra, seolah-olah koperasi harus “berhadapan” dengan minimarket besar. Padahal, semangat dasarnya adalah memberi ruang tumbuh bagi ekonomi lokal.

    Koperasi desa sejatinya bukan pesaing siapa pun. Ia adalah rumah bersama warga. Di sanalah petani menitip hasil panen, ibu-ibu membeli kebutuhan pokok, dan pemuda desa belajar berwirausaha. Koperasi hadir dengan semangat gotong royong — nilai asli bangsa yang telah hidup jauh sebelum ritel modern berdiri.

    Arah Kebijakan Pemerintah yang Berpihak

    Dalam sejumlah pernyataan resmi, Ferry Juliantono menegaskan bahwa pemerintah tidak berniat menutup atau mematikan ritel modern. Klarifikasi ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat.

    Yang disampaikan pemerintah lebih pada pengaturan ekspansi gerai baru di wilayah desa, supaya koperasi yang sedang tumbuh tidak langsung tersisih oleh kekuatan modal besar. Kebijakan ini adalah bentuk afirmasi — keberpihakan sementara — agar pelaku ekonomi kecil punya kesempatan berkembang.

    Dengan kata lain, koperasi desa ingin diberi “napas” terlebih dahulu. Ketika fondasinya kuat — stok barang rapi, harga bersaing, manajemen profesional — barulah persaingan berlangsung sehat. Prinsipnya bukan melarang, melainkan menyeimbangkan.

    Langkah ini juga selaras dengan visi pemerataan pembangunan. Desa tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk kota. Desa harus menjadi produsen, pengelola, sekaligus penikmat keuntungan ekonominya sendiri.

    Kopdes dan Ritel Modern: Bukan Lawan, Tapi Ruang Tumbuh

    Kehadiran Indomaret dan Alfamart selama ini memang membantu distribusi barang dan membuka lapangan kerja. Kontribusi itu tidak bisa diabaikan. Namun di desa-desa kecil, dominasi ritel besar kadang membuat usaha lokal sulit bernapas.

    Di sinilah koperasi mengambil peran berbeda. Ia tidak semata mengejar laba, tetapi juga kesejahteraan anggota. Keuntungan kembali ke warga dalam bentuk sisa hasil usaha, modal bergulir, dan harga yang lebih ramah bagi masyarakat sekitar.

    Jika dikelola profesional, koperasi desa bahkan bisa meniru sistem minimarket modern: rak tertata, pencatatan digital, pelayanan cepat. Bedanya, kepemilikannya kolektif. Setiap warga adalah pemilik, bukan sekadar pembeli.

    Membangun Optimisme Ekonomi Gotong Royong

    Karena itu, dukungan terhadap koperasi desa bukan hanya dukungan pada lembaga, tetapi pada masa depan ekonomi rakyat. Ketika koperasi kuat, uang berputar di desa, lapangan kerja tercipta di kampung sendiri, dan urbanisasi bisa ditekan.

    Tantangannya tentu ada: tata kelola harus transparan, pengurus harus jujur, dan pelayanan harus profesional. Tanpa itu, koperasi sulit dipercaya. Maka pembinaan, pelatihan, dan pendampingan menjadi kunci keberhasilan program Kopdes.

    Pada akhirnya, pilihan kita sederhana: membiarkan desa hanya menjadi konsumen, atau mendorongnya menjadi pelaku utama ekonomi. Mendukung koperasi desa berarti memilih kemandirian, gotong royong, dan keadilan sosial. Dari desa yang berdaya, Indonesia yang kuat akan lahir.